Rabu, 04 Juli 2018

Bukan Jamannya Lagi Jadi Orangtua Yang Kudet

Anda pernah dengar kata kudet? Kalau belum pernah mendengarnya berarti anda masih kurang update. Kudet merupakan kata yang kini banyak diucapkan dalam pembicaraan oleh anak-anak dan remaja kita. Kata singkatan dari “kurang update” inilah yang kini sedang populer di dunia social media dan pergaulan anak-anak remaja.

Social Media Strategist PT.ISBG Indonesia, Ahmad Zakyi Mubarok menyarankan para orangtua untuk terlibat dalam aktifitas social media anak-anaknya agar bisa memantau pergaulan mereka didunia maya.

“Keterbukaan komunikasi antara orang tua dan anak selain dari pemahaman tentang agama yang sudah jelas mengatur tentang baik dan buruknya suatu hal tentu menjadi yang utama. Namun, untuk beberapa kasus tentu saja hal ini belum cukup. Orangtua juga harus tahu perkembangan yang ada sekarang ini. Termasuk mengetahui tentang social media apa saja yang berkembang sekarang,” papar Zakyi menjelaskan.

Menurutnya, bentuk keterlibatan orangtua dalam pergaulan dunia maya anak-anaknya adalah minimal orang tua memiliki account di social media channel tempat anaknya berteman dan menjadi teman/follower dari anak-anaknya. Hal ini tentu memberi manfaat banyak bagi orangtua. Selain orangtua bisa memantau pola pertemanan anak-anaknya, juga sekaligus meningkatkan kemampuan berkomunikasi memanfaatkan teknologi media baru yang berkembang saat ini.

“Kebiasaan komunikasi via social media antara anak dan orang tua harusnya tidak menjadi hal yang tabu walaupun saat ini hal itu mungkin hanya sebagian kecil yang melakukan hal tersebut,” ujarnya lagi.

Pengaruh social media pada anak remaja di Indonesia saat ini terutama di kota-kota besar memang sangat besar. Social media menjadi media utama yang paling berpengaruh bagi remaja dibandingkan media lainnya seperti televisi, radio dan media cetak. Informasi yang cepat menjadi alasan mereka terus memantau semua channel media online yang ada biar tidak dicap “kurang update” alias “kudet”.

Munculnya kata-kata baru di twitter seperti ciyus (serius?), miapah (demi apa?) merupakan perilaku yang timbul di social media.Bukan hanya itu, aktivitas-aktivitas di social media saat inipun seakan telah menjadi kata kerja, contohnya seperti “nge-twit”, “googling” dan lain sebagainya.

Zakyi mengungkapkan, seringkali sisi lain yang tidak disadari oleh para orangtua adalah melalui aktifitas akun social media kita begitu mudahnya membaca karakter anak remaja saat ini. “Bahkan sudah menjadi ciri-ciri remaja saat ini bahwa mereka lebih banyak memiliki teman di facebook ketimbang dikehidupan nyatanya.”

Bahkan dalam sebuah penelitian dinyatakan bahwa media sosial berhubungan dengan kepribadian introvert. Semakin introvert seseorang maka dia akan semakin aktif di media sosial sebagai pelampiasan.

Lalu seperti apa sebaiknya strategi yang perlu diterapkan orangtua di rumah demi memantau aktifitas anak-anak mereka dalam berinternet? Zakyi memberikan beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

Posisi komputer sebaiknya diletakkan di ruang keluarga, tidak di dalam kamar tidur anak. Hal ini memudahkan orangtua memantau dan mengetahui aktifitas internet serta laman-laman apa yang dikunjunginya sambil berinteraksi dengan seluruh anggota keluarga lainnya.

Gunakan DNS Nawala untuk memblokir situs-situs porno secara otomatis yang telah disediakan oleh pemerintah. Penggunaan Nawala merupakan penanganan awal yang baik.

Jangan segan untuk meminjam atau sekedar memeriksa handphone atau gadget yang dimiliki anak.

Komunikasi yang intens dan hangat menjadi solusi yang paling utama untuk memberi pemahaman tentang pentingnya menjauhi konten buruk di internet.
Disqus Comments